Tentang Twitter

Sudah hampir tiga tahun terakhir gw menggunakan twitter sebagai salah satu alat untuk menjaga eksistensi di jagat digital ini. Seperti biasa, gw selalu menjadi orang yg telat dalam hal gabung dengan social media. Dulu orang2 masih sudah haha hihi komen2 foto di facebook, gw masih maen friendster. Kawan-kawan selalu update status lewat twitter gw masi konvensional berbagi pikiran lewat blog ini. Katrok memang gw.

Satu hal yg menarik dari twitter adalah orang bisa langsung menyapa orang lain yg di-follow-nya. Kita bisa tahu apa yg sedang dilakukan oleh orang yg kita follow dan dengan gampangnya kita bisa menyampaikan ide/pikiran kita ke orang yg kita follow tersebut. Maka jangan heran kalau misal ada akun @juanmata10 mentweet ” #NYC here we go”, maka saya sebagai fans beliau akan mereply tweetnya dengan “@juanmata10 ati2 ya bro, jangan lupa baca doa, salam buat Jose”. Gw tampak penuh percaya diri menyapa si idola, sok akrab, dan pakai bahasa Indonesia pulak. Hal yg tidak mungkin terjadi jika saya berhadapan langsung dengan dia. Kalo ada Juan Mata di depan saya, saya gak yakin bisa nyantai dan ngajak ngobrol kayak gitu.

Inilah fenomena yang gw anggap menarik dr twitter, pemalu-pemalu macam gw *self-claimed* bisa jadi orang pede macam Choki Sitohang. Gw bisa menyapa mbak Rihanna di ameriki sana, ngomenin fotonya Syahrini, mengadu ke Pak SBY ketika potongan pajak di payslip bulan Juli tinggi, gw bisa memaki-maki Pizza Hut Delivery waktu pesenan gw gak sesuai atau gw bisa mencela-cela @benhan yang Arsenalnya sudah 8 tahun gak pernah juara, walaupun saya gak kenal dia.

Semua bebas di twitter. Semua orang jadi pemberani. Semua orang jadi kritis. Dan sayangnya kritisnya sudah berlebihan dan mengarah ke arah negatif. Menghina, mencela, atau bahkan menfitnah sudah jadi sajian sehari-hari di timeline twitter.

Pernah denger orang yang namanya James O’Brien? Dia ini pria inggris berusia 24 tahun yang konon hobinya ngata-ngatain celebrity atau orang terkenal. Korbannya dia udah banyak, ada Victoria Beckham, Rio Ferdinand, Lennox Lewis. Suatu hari si O’Brien yang punya twitter account @jimmyob88 ini iseng ngata-ngatain petinju yang namanya Curtis Woodhouse (@woodhousecurtis), contoh twitnya si O’Brien ini:

@jimmyob88: @woodhousecurtis retire immediately cant even defend a pathetic little title you are a complete disgrace #awfulboxer

@jimmyob88: @woodhousecurtis haha u lost u silly mug fight to a 10 year old next time if u want to actually win u waste of spunk

Si O’Brien secara kontinyu terus terusan ngebully si Curtis, bilang kalo dia petinju payah dan nyuruh dia pensiun. Nah ini yang seru, si Curtis akhirnya ngetwit kek gini coba,

@woodhousecurtis: @jimmyob88 ill give £1000 to anybody that provides me with address and picture of this man! Knock knock!!

Gokil gaktuh. Dan karena si Curtis punya 18000 follower, jadilah ada seorang follower yang ngasi tau daerah rumahnya si O’Brien. Om Curtis abis dapet daerah si tukang bully ini langsung ngambil mobilnya, ngarah ke daerahnya si O’Brien, dan selama di perjalanan nge-live twit macam ini:

@woodhousecurtis: just on my way to sheffield to have a little chat with old friend, get the kettle on @jimmyob88 #boxing #football #sillyboy

@woodhousecurtis: when i get on @jimmyob88 road ill send a picture of the road just to let you all know that im not messing about #keyboardwarrior #boxing

Akhirnya si Curtis nyampe daerahnya O’Brien dan ngetwit sambil ngasi liat gambar nama jalannya:

@woodhousecurtisright: Jimbob im here !!!!! someone tell me what number he lives at, or do I have to knock on every door #itsshowtime http://t.co/H1qnYnbE6P

Sadar kalo si Curtis ini serius akhirnya si O’Brien jadi ciut nyalinya dan ngetwit:

@jimmyob88: @woodhousecurtis i am sorry its getting abit out of hand i am in the wrong i accept

Sayangnya konon si Curtis ketinggalan dompet dan memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang doi ngasi anceman,

@woodhousecurtis: @jimmyob88 never came out to play so im going back home! maybe a bit daft what i did today but sometimes enough is enough #boxing #football

20130817-005538.jpg

Cerita ini sempet ramai dan diberitakan di media-media inggris sana, bahkan akhirnya si O’Brien dan Curtis dipertemukan di salah satu talkshow dan O’Brien minta maaf untuk kelakuannya di twitter. Kayaknya dia udah gak berani lagi nge-cyberbully orang-orang yg gak dikenalnya.

Contoh kasus di atas adalah hal buruk yang bisa terjadi kalo kitagak bisa behave di social media. Di twitter orang bisa seenaknya bilang “Bego lo!”, coba bayangin kalo lo lagi duduk di halte dan tiba-tiba ada yang bilang “Bego lo!”. Gw yakin paling engga lo bakalan marah dan kalo yg ngatain lebih kecil dari lo (atau nyali lo emang gede), lo akan nempeleng itu orang pasti.

Twitter bikin orang berani dan pede mengungkapkan pikiran dan unek-unek. Kasih satu kasus atau permasalahan, maka segenap massa twitter akan berkomentar. Apakah di dunia nyata juga seperti itu? Kayaknya sih engga deh. Contoh, dulu waktu kuliah kalo ada dosen nanya tentang suatu masalah, berapa orang sih yang ngacung? Satu dua orang kan pasti. Yang gak ngacung itu pasti either gak tau jawaban atau tau jawaban tapi gak pede. Kalo aja dosennya ngasi kuliah di social media misalnya. Itu mahasiswa dari yang tau punya jawaban yg bener ampe yang jawabannya ngaco-ngaco pasti akan reply.

Jadi menurut gw sih yaa, kalo harusnya lo berani ngomong di twitter seberani lo ngomong secara berhadap-hadapan langsung. Apalagi kalo twit lo bernada menghina, melecehkan, atau memancing keributan. Supaya lo siap kalo ada orang kayak Curtis Woodhouse yang gak terima sama omongan lo!

2 Comments

Filed under Di Kala Nganggur

We judge book by its cover, obviously..

Saya selalu bertanya-tanya apakah efektif penggunaan metal detector di pintu masuk mal-mal di Jakarta? Kalo lewat metal detector perasaan seringnya bunyi, tapi ga diapa-apain juga sama satpamnya. Saya punya teori, sepertinya si satpam juga ngeliat rupa dan penampilan orang sebelum memutuskan apakah hanya sekedar memeriksa badan si pengunjung atau apakah sampai dilakukan prosedur colonoscopy. Jadi karena saya berpakaian kemeja lengan panjang, celana bahan, dan sepatu pantopel, maka saya adalah pekerja yg sangat amat tidak mungkin sekali membawa bahan peledak, itu mungkin yg ada di pikiran satpam mal.

Menurut saya di Indonesia ini penampilan masih jadi bahan pertimbangan. Kalau kita tampak seperti orang yang berhak/mampu melakukan/mendapatkan sesuatu, maka kita bisa melakukan/mendapatkan sesuatu itu. Saya malam ini lagi senang berhipotesis, hehe. Contoh, pernahkah kawan-kawan sekalian duduk di Starbucks tanpa memesan minuman yg over priced itu dan kemudian dengan santenya ber-wifi ria? Saya sih beberapa kali melakukan teknik ini dan berhasil tanpa diusir, hehe.

Sebaliknya ketika kita berpenampilan “tidak sesuai” dengan yang diharapkan oleh masyarakat, maka jangan harap bisa mendapatkan sesuatu yg mungkin sebenarnya bisa kita dapatkan. Terdengar rumit yaa hipotesis saya. Saya kasih contih deh. Pengalaman pribadi saya waktu awal-awal punya rumah di Cluster Sevilla BSD. Komplek ini komplek baru yg isinya kebanyakan keluarga muda yg modern. Saya waktu itu sering keluar masuk komplek pake motor Yamaha Jupiter 97 yg butut. Setiap masuk komplek satpam di gate selalu bertanya, “Mau kemana Pak?”, saya selalu jawab “Ke rumah saya” dengan nada ‘emangnya gw gak mampu beli rumah di BSD. Yaa memang benar sih saya gak mampu klo ga dikasi pinjeman duit dr perusahaan, hahaha. But still, itu penghuni yang pake mobil gak ditanyain ampe segitunya, selalu di sapa ramah.

Kejadian yg sama saya perhatikan berlaku untuk para pria yg berpenampilan jenggot tebal, celana ngatung, dan bawa tas ransel hitam. Jenis pria-pria seperti ini pasti kalo masuk Mal atau hotel jadi pusat perhatian. Padahal salah mereka apa coba? Miara jenggot ikut sunnah nabi, celana ngatung karena mereka manjaga supaya pakaian tidak kotor.

Yaahh saya sih cuma berharap saya bisa gak menilak orang hanya dari penampilan, walo susah sih emang, hehehe..

Leave a comment

Filed under Di Kala Nganggur

Tidak Ada Makan Siang Yang Gratis

Seorang pria muda berpakaian rapih masuk ke sebuah bar dengan membawa anjing kecil lucu, Ia duduk di bar dan memesan minuman. Bartender mencoba ramah dengan bertanya basa-basi mengenai kabar si pria tersebut. Percakapan antara bartender dan pelanggan pun terjadi. Sang pria menjelaskan kalau dirinya sedang dlm perjalanan ke bank untuk mencairkan sebuah cek hasil keuntungan bisnisnya. Sang pria pun meminta tolong bartender untuk menjaga anjingnya selagi dia pergi ke bank yg tidak jauh dr situ. Bartender mengiyakan dan menyuruh pria meninggalkan anjingnya di sudut bar. Pria tsb pun keluar dr bar.

Tak lama setelah pria tsb keluar, masuklah ke dalam bar yg sama seorang wanita yang dari penampilanya menunjukkan kalau ia adalah orang kaya. Ia duduk dan memesan minuman. Mata wanita ini tertuju ke anijng sedang duduk malas di sudut bar. Sang wanita mendekat ke arah anjing tsb dan menggendongnya. Anijng tsb memang terlihat terurus dan jinak.

Wanita tsb pun tertarik dgn anjing lucu itu dan bersedia membeli seharga 1000 pound. Bartender menolak dengan halus karena si anjing memang bukan miliknya. Setelah rayuannya tidak mempan, wanita tsb memberikan kartu nama ke bartender, siapa tahu si bartender berubah pikiran.

Beberapa waktu berselang sang pria rapi sebelumnya kembali ke bar, air mukanya menunjukkan kekecewaan. Bartender menuangkan minuman sesuai permintaan. Sang pria pun bercerita bagaimana dia ditipu oleh rekan bisnisnya, dimana cek yg seharusnya adalah keuntungan bisnisnya ternyata cek kosong. Bisnisnya hancur, uangnya hilang, dan dia tidak punya apa-apa lagi. Sang pria kemudian mengambil anjingnya dan menggendongnya dengan berharap si anjing bisa sedikit melupakan beban hidupnya.

Sang bartender mendengarkan dengan seksama, pikiran egois pun muncuk di benak bartender. Ia lalu menyampaikan rasa simpatinya, dan bersedia membantu sang pria. Bartender menawarkan uang 200 pound untuk membeli si anjing, uang yg mungkin bisa digunakan dalam masa yg sulit seperti ini. Awalnya sang pria menolak, tapi setelah tawarannya dinaikkan menjadi 300 pound sang pria pun goyah dan setuju menjualnya dengan harga 300 pound. Bartender puas dengan transaksi tsb, di kepalanya sudah dipenuhi oleh keuntungan 700 pound yg nanti akan didapatkannya.

Sang pria keluar dari bar dengan uang 300 pound. Bartender menelpon nomor yg diberikan oleh sang wanita, berkali-berkali ia menelpon tapi tidak ada yg mengangkat. Agak jauh dari bar sang pria dan sang wanita bertemu, mereka tampak akrab. Sang pria mengeluarkan 300 pound yg baru saja dia dapat, sang wanita pun tersenyum.

Di dalam bar, bartender masih berusaha menghubungi nomor sang wanita. Ketika ia sibuk, si anjing yg tadinya tidur-tiduran malas kemudian berdiri dan langsung berlari keluar bar. Si anjing berlari kencang. Bartender kaget dan berusaha mengejar, apa daya anjing tersebut menghilang di keramaian. Anjing tsb kemudian berlari ke tempat sang pria dan wanita bertemu. Mereka bertiga pun kemudian pergi ke tempat lain.

Cerita di atas pastinya bukan cerita nyata. Cerita ini saya ambil dr suatu adegan si film series Hustle. Series ini menceritakan tentang para tukang tipu yg dipimpin oleh Michael Stone yg menyebut diri mereka sebagai conman atau con artist. Mereka membuat para korban mereka secara sukarela dan percaya diri (confident) masuk ke dalam jebakan mereka. Seperti halnya bartender di atas, dia mungkin tidak akan pernah tahu apakah dia baru saja kena tipu 300 pound atau baru saja kehilangan kesempatan mendapatkan uang 1000 pound. Conman yg hebat akan membuat korbannya berpikir seperti pikiran yg kedua.

Kita mungkin bisa bilang, kan itu tidak nyata dan hanya adegan film. Memang. Tapi bukankah kita sering mendengar kisah-kisah penipuan seperti ini di sekitar kita? Beberapa tahun yang lalu kita mendengar nama Selly si penipu cantik. Beraksi dari 2006 sampai 2011, dia dengan lihainya bisa menipu banyak orang dengan berbagai macam modus. Korbannya dibuat percaya dengan dia sehingga dengan mudahnya para korban memberikan uang secara sukarela.

Korban si Selly dan Michael Stone menurut saya sepertinya ada kesamaan, yaitu orang-orang yg mudah dibuai angan-angan kalau uang itu mudah didapat. Cara mendapatkan uang konvensional dengan kerja dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore itu sudah basi. Pakai lah cara saya, dengan duduk duduk ajah uang anda bisa berlipat. Mungkin seperti itu yg dijanjikan oleh Michael Stone atau Selly.

Saya adalah orang yg tidak percaya kalau uang itu bisa didapatkan dengan mudah. Orang tua saya mengajarkan hal ini dari sejak saya dan adik-adik saya kecil. Dulu waktu SMP uang jajan saya sudah bukan harian lagi, tapi mingguan. Ibu saya berusaha membiasakan anak-anaknya bisa mengontrol uang sakunya. Tapi uang mingguan tidak begitu saja kami dapatkan, sebagai gantinya kami dikenakan pekerjaan rumah tangga, ketika itu Ibu saya sudah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga lagi. Saya ingat waktu saya SMP saya kebagian menyapu dan mengepel lantai tiap hari. Tugas waktu SMA berganti menjadi mencuci baju semua anggota keluarga. Sejam sebelum saya berangkat sekolah saya sudah mencuci baju, ya memang pakai mesin cuci sih. Pun begitu dengan adik-adik saya, Ferry adik pertama saya dapat bagian membersihkan kamar mandi dan menguras bak mandi, sedangkan Agnes si bungsu kebagian mencuci piring sisa makan malam.

Dari situlah saya belajar jika ingin mendapatkan sesuatu semua harus diusahakan, harus susah-susah dahulu. Tidak ada makan siang yang gratis, demikian pepatah mengatakan. Makanya kalo ada kawan yg menawarkan jadi anggota MLM karena menurut mereka mendapatkan penghasilan itu gampang sekali, SAYA TIDAK PERCAYA! Bukan maksud saya bisnis MLM tidak bisa menghasilkan banyak uang, bukan! Saya percaya MLM bisa menghasilkan penghasilan yg besar, saya punya kawan yg sukses dengan MLMnya, saya punya wall facebook yang bisa membuktikan hal itu. Tapi saya percaya dia mendapatkan itu semua dengan kerja, kerja, dan kerja. Dan saya sepertinya tidak punya kemampuan untuk bisnis MLM, jadi yaa biarkan saya cari duit dari mengurus gas plant 780 MMscfd saja yaa ;)

Sebelum saya makin banyak meracau kemana-mana, maka ada baiknya saya pamit mundur. Salam!

Leave a comment

Filed under Info yang Smoga Penting

Mencoba Menulis Lagi

Entah untuk ke berapa kalinya saya lupa password blog ini. Tulisan terakhir saya yg dibuat tahun 2011 barangkali membuat anda harus menampar saya 3 kali waktu saya mengaku kalau saya adalah blogger. Tapi sepertinya saya tidak sendiri, link-link blog kawan-kawan saya yg saya pajang di blog ini pun tampaknya tidak pernah diupdate lagi.

Seorang kawan berteori, mungkin ini efek adanya twitter. Dengan twitter seseorang tidak harus menulis panjang lebar untuk mengungkapkan pemikirannya. Mudah. Tidak ribet.

Semuanya mudah dengan twitter. Semua orang bisa sharing pemikiran, ide, link berita-berita terkini, memberi tahu dunia hari ini sedang makan apa, lagi dengerin lagu apa, saat ini lagi dimana, sharing foto, berdoa, sharing quotes yg njish-bener-banget-nih-quote. Semua bisa dilakukan dengan 140 karakter.

Saya sekarang adalah orang yg melakukan sebagian besar hal-hal yg saya sebutkan di atas dengan twitter. Saya gak tau ini suatu kemunduran atau kewajaran, hehe.

Jujur saya cukup kangen untuk menulis lagi. Saya rindu dengan repotnya mengedit-edit, mencari link-link menarik yg bisa saya tambahkan ditulisan saya supaya saya terlihat berpengetahuan luas, mambaca comment-comment yg ada di tulisan saya, dan, believe it or not, menyenangkan lho melihat blog statistic, dimana saya bisa lihat tulisan mana yg paling banyak dibaca atau di-google orang. Yess, I definitely miss those times.

Saya ga bisa janji akan rajin nulis lagi seperti dulu, tapi paling tidak saya berniat menulis lagi, sependek apapun tulisannya.

1 Comment

Filed under Info yang Smoga Penting

Tips Bandara

Yeaah setelah hiatus menulis di blog ini akhirnya saya punya bahan untuk ditulis sodara2. Malu rasanya nyebut diri sebagai blogger kalau tulisan terakhir saya sudah 3 dasawarsa yang lalu, bahkan password akun blog ini pun sempat saya reset karena lupa.

Kali ini saya mau berbagi sedikit tips sok tau tentang bandara. Empat tahun terakhir jadwal kerja saya mengharuskan saya secara rutin bolak balik kota dan hutan. Artinya dalam sebulan minimal dua kali si saya mengunjungi suatu bandara. Coba kalo empat tahun, minimal 96 kali kan saya berada di bandara Soekarno-Hatta, suatu hal yg ga pernah saya bayangkan waktu kuliah dulu. Yaa wong dulu ajah pertama kali naek pesawat baru pas kuliah tingkat 3, itu pun karena harus Kerja Praktek di Palembang.

Okay, hal yang mau saya bahas adalah check in. Jaman dulu saya suka takut ketinggalan pesawat karena telat check in. Alhasil minimal satu setengah jam sebelum flight saya sudah duduk manis di ruang tunggu. Yaa wajar juga sih, secara kan harga tiket pesawat mahal yaa. Yang mau saya bahas di sini adalah check in untuk penerbangan domestik untuk pesawat garuda. Karena saya emang seringnya naek garuda untuk keperluan kerja, bukannya sombong ini yaa cuma belagu ajaa… Hehehe…

Seperti yang kita tau kalo penerbangan domestik garuda di bandara soetha ada di terminal 2F. Pas masuk terminal kita akan dihadapkan oleh berbagai macam pilihan cara untuk check in. Ada yang general check in untuk economy class dan business class, check in untuk anggota Garuda Frequent Flyer (GFF) silver, gold, dan juga GFF citibank, trus juga ada check in without bagage, dan terakhir ada mesin untuk self check in.

Dari sekian banyak cara pilihan check in mana yang lebih cepat?? Kalo menurut saya sih jelass paling cepat yaa kalo ngantri di business class, yaa jelas lah yaa, dengan jumlah kursi business class yang cuma sekitar 8 kursi per pesawat pastilah ngantrinya cepet. Pilihan ngantri cepet lain adalah check in dengan kartu GFF gold atau GFF citibank. Syaratnya yaa kudu jadi anggota dulu. Buat dapetin GFF gold itu keknya cukup susah, saya yang bolak balik tiap bulan aja GFFnya masih silver. Yaa mungkin karena tiket pesawat yang dikasi ke saya kelasnya masih economy kacrut kali yaa, makanya dapet milleagenya juga kecil. Kemudian untuk dapet kartu kredit GFF citibank sekarang sih udah ga bisa. Inget kan kasus citibank yang bermasalah sama debt collector? Nah gara2 kasus itu bank ini di-banned deh 2 tahun gak bole nyari nasabah kartu kredit baru.

Okay cara2 di atas adalah cara untuk kaum2 yang berpunya, gimana cara ente2 inlander inlander kere biar cepet check in? Menurut saya cara paling cepat dan praktis adalah dengan ke mesin self check in. Letak mesin self check in ini kalo dari pintu masuk 2F ada di sebelah kiri. Cara pemakaiannya mudah, tinggal masukin kode booking dan nomor kartu GFF (kalau ada) dan tinggal milih kursi deh. Bayar airport taxnya gimana? Tenang sodara2 bayar airport tax ntar pas di boarding room. Cepet dah, gak nyampe 10 menit udah bisa check in, soalnya ntah kenapa jarang orang memanfaatkan fasilitas ini. Entah gaptek atau entah kurang informasi, yang pasti jarang sekali yang memanfaatkan fasilitas self check in ini. Kekurangan dari self check in ini adalah hanya bisa melakukan check in pada waktu 2 jam sampai 45 menit sebelum waktu keberangkatan. Kalo klean semacam saya yg suka mepet2 kurang cocok deh keknya, hehe.

Question: Mas mas, kalo saya udahlah tiketnya kelas ekonomi, trus gak punya kartu kredit citibank, Kartu GFF pun masih blue, eehh gara2 tadi malem nonton bola saya nyampe bandara 30 menit sebelum keberangkatan. Gimana yaa cara check in cepat??

Answer: Gini yaa dek, MATI AJA LO!!! niat kagak siih mo terbang??? Hehehe.. Yang pasti kalo ngantri di general check in panjangnya amit2, bisa2 saking lamanya ngantri situ dapet cewe trus nikah trus punya anak, lamaa lah pokoknya, apalagi kalo terbangnya pagi2. Naah trus yaa jangan pernah berpikir kalau yang namanya check in without bagage itu memberikan fasilitas check in cepat. Gak salah sih berpikir seperti itu, tapi yaa sekitar 20an calon penumpang juga berpikiran seperti itu, alhasil yaa antriannya panjang jugaaa.

So, kalo di situasi seperti itu gw biasanya seringnya langsung mengarah ke check in international, kalau dari pintu masuk terminal 2F langsung aja belok kiri dan lurus terus, nah ntar di counternya ada tulisan JEDAH. Naah biasanya ini counter sepi sesepi sepinyaa. Man, kita hidup di era digital, asal si petugas terhubung dengan jaringan garuda lo bisa didaptarkan. Gw jamin, ga nyampe 5 menit, lo udah bisa dapet nomor tempat duduk. Perasaan sewaktu jalan menuju boarding room dan ngeliat manusia2 susah2 ngantri tuuh gimanaa gituu, merasa menang laah, hahaha. Sedikit tips, kalo check in di counter international ada baiknya kita bayar airport tax dengan uang pas (40rebu), soalnya airport tax internasional kan 150 rebu, biasanya sih gak ada tuh kembalian 10rebuan.

Yah gitu deh kira2 hasil pengamatan saya selama 4 tahun ini bolak balik terminal 2F. Semoga infonya berguna. Setengahnya sih saya berharap ga ada yg baca postingan ini, soalnya kalo postingan ini mendunia *caileee* ntar counter internasional penuh lagi, hehehe.

11 Comments

Filed under Info yang Smoga Penting

Phuket Trip Day 3 – Pantai dan Bencong

Sungguh akhir2 ini gw sangat pemalas untuk menulis, padahal bahan untuk ditulis banyak sekali. Contoh, tulisan tentang jalan2 ke Phuket, terakhir gw tulis bulan Agustus tahun lalu, sedangkan jalan2nya sendiri bulan Januari 2010. Banyak hal yang bikin malas menulis, tempat kerja baru gw yang agak pressurized membuat gw sangat menghargai waktu luang, kalo punya sedikit waktu kosong aja bawaannya tidur2an membabi sambil nongton tipi. Yaah mudah2an ngelanjutin apa yang udah gw mulai dulu bukanlah hal yg sia2.

Okey, lanjut yaaa petualangan gw, Tisya, Piter, Ledy, Aming, Ami, Cintha, Rila, dan Yunia di Phuket. Karena perjalanan ke Phi2 Island di hari kedua yang cukup melelahkan, maka di hari ketiga ini kita berencana mau bermalas2an saja. Ada sih opsi untuk ke James Bond Island, cuma sepertinya bakalan capek perjalanannya, trus juga kok keknya paketnya mahal yaa, hahaha. Akhirnya kita putuskan untuk bermalas2an di Patong Beach, trus siang ke Phuket Town, dan malemnya nonton bencong2 Simon Cabaret.

Continue reading

2 Comments

Filed under Di Kala Nganggur, Info yang Smoga Penting, Jalan - jalan yuukk...

Gak Jelas :p

Dalam olahraga sepakbola kita sering melihat dan membaca kisah – kisah heroik para penyerang yang dengan golnya di menit – menit akhir, bahkan di injury time, menyelamatkan timnya dari kekalahan atau mungkin malahan membuat timnya menang. Penyerang tersebut disanjung setinggi langit, menjadi headline di tabloid olahraga atau namanya masuk dalam sepuluh besar trending topic di twitter. Tidak menjadi masalah jika penyerang tersebut selama 90 menit bermain buruk, sering kehilangan bola, salah mengoper bola, atau bahkan bermain kasar. Yang terpenting, dia mencetak gol, timnya menang, fans senang, pelatih bahagia, dan pemilik klub pun tertawa.

 

Di pihak lawan yang terjadi adalah kebalikannya. Barisan pertahanan mereka yang selama 90 menit tak tertembus harus menelan pil pahit kebobolan di menit akhir. Bukan aksi – aksi akrobatik sang penjaga gawang dalam menyelamatkan gawang yang akan ditulis di surat kabar, pun bukan bagaimana lugasnya para pemain belakang menerapkan strategi marking yang luar biasa hebatnya yang akan dikenang oleh para suporter. Komentar macam “Tim kami kalah karena blunder penjaga gawang” atau “kemenangan di depan mata sirna karena bek kami tidak fokus di akhir pertandingan” yang akan diontarkan oleh para suporter. Di daftar klasemen pun sangat jelas aturannya, menang dapat poin 3, seri dapat 1 dan nol untuk kekalahan. Tidak ada aturan pemberian poin untuk “hampir menang” atau “walau kami kalah tapi kami menerapkan sepakbola yang indah”.

Continue reading

1 Comment

Filed under Info yang Smoga Penting, Kebodohan