Seorang sahabat pernah berkata, “Di umur – umur kita sekarang ada dua keputusan penting yang harus diambil, pertama nikah dan yang kedua beli rumah”. Nikah, uhhmm siapa yang ga mau nikah, manusia pada kodratnya akan memenuhi instingnya sebagai mahluk hidup yang beranak pinak demi menjamin eksistensinya di bumi ini. Cuma kalo dengan hitungan realistis, gw tidak akan nikah dalam tahun ini, wallahualam, maka gw konsentrasi ke keputusan penting kedua, yaitu cari rumah. Thoh pada akhirnya cari rumah juga mendukung nikah. Macam burung – burung itu lah, dimana sang jantan yang berlomba – lomba membuat sarang yang bagus, supaya betina mau menikah dengan si jantan (seeettt dah burung dibilang nikah, meningkatkan derajat hewan lah sekali – kali, hahaha). Yaaahh sebagian burung ada yang warna bulunya dibagus – bagusin biar menarik, bahkan ada burung yang menampilkan tariannya untuk memikat betina. STOP. Kenapa jadi ngebahas burung???
Udah 3 bulan terakhir ini gw rada fokus nyari rumah. Sebenernya dari awal kerja di Rekin juga udah nyari, cuma waktu itu kejedot masalah fulus, gw belum punya duit buat bayar DP, hahaha. Jadilah gw cuma jadi pengunjung tetap pameran – pameran rumah. Yaaa cuma pengen tahu harga rumah ajah sih waktu itu dan biar ada bayangan juga.
Setelah menjalaninya ternyata cari rumah itu sama kayak cari jodoh buat dinikahin, hahaha. Gw sangkain sihh lebih simpel cari rumah. Dulu gw mikir gini, nyari jodoh lebih susah karena sang wanita punya ekspektasi terhadap pria mana yang dia ingin nikahi dan dengan ekspektasi itu wanita punya hak yang absolut untuk menerima atau merijek itu pria. Nyari rumah pun seperti itu, oke kita suka sama suatu rumah tapi sayang sang pemilik hanya melepas dengan harga 3 milyar. Atau rumah oke, tanah luas dan harga bagus tapi sayang elevasinya 2 m di bawah permukaan laut (ada yaa??? hehehe). Banyak faktor yang bisa memengaruhi keputusan lu dalam membeli rumah. Gw coba meringkasnya secara tidak terstruktur, haha, rasakan, ehh salah selamat membaca.
Rumah Bekas atau Rumah Baru
Buat gw ini adalah pertanyaan pertama yang harus gw jawab. Gw orangnya sangat tidak multitasking soalnya, hehe, jadi harus fokus satu ajah (ehm promosi, tidak bisa selingkuh ceunah
). Biar lebih simpel, perbandingannya gw bikin poin – poin aja yaah.
Rumah Bekas yang bagus – bagus:
- Harga. Dari beberapa penelusuran, untuk luas bangunan dan luas tanah yang hampir sama biasanya rumah bekas harganya lebih murah dibandingkan rumah baru. Tapi ga semuanya begitu ada faktor lain yang menentukan, yaitu lokasi. Temen gw dapet rumah di daerah Bintaro, luas bangunan dan tanah 150 m2, udah tingkat 2 dengan harga 400juta kurang dikit. Dengan harga yang sama coba cari perumahan baru di Bintaro, ga akan dapet segede gitu dah.
- Lingkungannya sudah terbentuk, jadi pas survey kebayang fasilitas – fasilitas yang ada di situ. Trus bisa nanya – nanya info sama orang – orang sekitar.
- Sertifikatnya sudah jadi, lebih tenang ajah.
- Ga perlu ngurus – ngurus pasang telpon, aer dan listrik.
Rumah Bekas yang jelek – jelek:
- Biasanya bentuk bangunannya ga sesuai sama selera.
- Beberapa bagian bangunan harus diperbaiki sini dan sana terlebih dahulu.
- Rumah yang tidak dalam komplek atau cluster tidak memiliki fasilitas keamanan 24 jam.
- Biasanya si rumah sudah tidak menyisakan tanah untuk dibangun, karena sama pemiliknya sudah dibangun sesuai dengan kehendak dia dahulu. Jadi fleksibilitas untuk pembangunan ke depannya kurang.
- Harus survey bener – bener. Cari informasi dari orang – orang sekitar tentang keadaan daerah sekitar, apakah suka banjir, banyak preman, cerita horor rumah itu, dan lain – lain.
- Kepemilikan yang kadang tidak jelas. Nah ini harus ditelusuri juga, rumah itu termasuk dalam harta gono gini. Jika si penjual adalah pihak suami, maka waktu membeli minta surat pernyataan setuju menjual dari istri. Temen gw pernah ga jadi beli rumah dari seorang wanita karena ternyata rumah itu adalah pemberian dari mantan suaminya dan masih atas nama si mantan suami. Walopun si mantan suami udah merelakan itu rumah semestinya sertifikatnya ganti nama dulu jadi punya si wanita. Sebab rawan konflik nanti. Harus jelas lah setifikatnya. Untuk hal ini bisa minta bantuan Notaris.
Nyari rumah bekas bisa survey langsung, jalan – jalan ke lokasi yang lo mau. Di koran – koran juga banyak. Atau kalau mau brosing – brosing juga bisa. Kunjungi sajah Rumah123, Rumahraya, Bursa Rumah dan lain – lain. Info dari situs – situs itu lumayan lengkap, paling engga ada keterangan lokasi, luas tanah luas bangunan, jumlah kamar tidur/mandi, sertifikat, fasilitas lain dan ada beberapa yang menampilkan gambarnya. Namun survey harus tetap dilakukan untuk tahu kondisi bangunan dan kondisi lingkungan sekitar.
Ohh iyaa satu lagi yang pasang iklan di situs – situs itu ada yang pemilik tapi ada juga yang broker. Rumah123 biasanya yang pasang iklan broker. Rumahraya keknya banyakan pemilik deh solnya dikasi alamat lengkap. Penting, soalnya harga kalo broker yang jual agak mahal, yaahh komisi mereka kan dapet dari situ. Temen gw dapet rumah lebih murah berapa puluh juta gitu karena langsung ke pemiliknya. Tapi kalo emang niat pake jasa broker jangan tanggung – tanggung, langsung ajah minta bantuan mereka. Tinggal ongkang – ongkang kaki ajah kita, si broker akan keliling nyariin info rumah, kalo ada info kita dikabari dan langsung deh diajak survey bareng. Enak kan kalo punya duit banyak, hehe.
Nahh pegimana dengan rumah baru?? Nihh gw kasihh
Rumah Baru yang baik – baik:
- Bentuk rumah saat ini lagi model yang minimalis. Gw sih lebih suka dibandingkan dengan tipe model jaman dulu yang sangat mendewakan tiang – tiang segede gaban, hehe. Gw ga mau ngeluarin duit buat tiang.
- Konsep perumahan sekarang tuh biasanya yang cluster gitu dengan one gate policy. Jadi lebih aman aja sih. Mangkanya biasanya model rumahnya ga pake pager makan tanaman apalagi pager ku berbunyi….tidiiit tidiiit begitu bunyinya, hahahaa serius amat mbacanya, senyum dikit dong, nahh gitu kan lebih asoy liatnya. Kalo capek bikin teh dulu ga dilarang kok.
- Untuk perumahan – perumahan yang besar fasilitas umumnya biasanya lengkap. Si pengembang nampaknya pengen membuat orang yang tinggal di perumahan itu ga musti keluar jauh untuk memenuhi kebutuhannya. Ambil contoh BSD yang jangankan cuma fasilitas seperti pasar dan pusat hiburan, universitas – universitas swasta juga didirikan di situ. Pengemabang dalam hal ini punya master plan dan kita bisa lihat fasilits apa saja yang akan dibangun.
- Oleh karena rumahnya baru maka ada garansi, jadi kalau dalam waktu tiga bulan ada retak – retak ato ada yang rusak bisa di-claim.
Rumah Baru yang buruk buruk:
- Harganye relatif lebih mahal. Yaah wajar, soalnya fasilitas – fasilitas yang udah gw sebutin di atas.
- Lingkungan komplek/cluster belum terbentuk. Beli rumah baru saat ini kan sistemnya kita bayar dulu/indent (bisa tunai keras atau minjem ke bank, nanti bank akan melunasi dulu dan lo nyicil seumur idup ke bank, hahaha). Setelah itu baru deh pengembang akan ngebangun rumahnya. Jadi ketika lo survey awal lo cuma bisa ngeliat tanah gersang doang, hehe.
- Bentuk rumah tidak boleh dirubah. Ini adalah kebijakan pengembang, supaya seragam. Kalau ada sisa tanah mau dikembangin biasanya tidak boleh merubah tampak muka rumahnya. Jadi perlu dilihat misal luas bangunan 60 m2 dan luas tanah 120 m2, bukan berarti lo punya 60 m2 tanah untuk dibangun di kemudian hari. Itu tanah pasti abis buat halaman depan yang tidak boleh dikutak – kutik. Maka dari itu lihatlah sisa tanah yang di belakang atau yang di samping kalo beli rumah hook.
- Hati – hati memilih pengembang. Gw pernah lihat brosurnya perumahan namanya G*C di Depok ujung jauh tak bertepi sana (gara – gara kasus Bu Prita jadi takut ane nyebut merk, ente cari – cari ndiri lah yaa). Setelah gw brosing ternyata itu perumahan dahulu kala namanya sebut saja Kota Mawar (17 tahun, bukan nama sebenarnya, hahaha), yang mana pengembangnya bangkrut, yaaa pembangunannya agak bermasalah deh jadinya. Kalau mau aman sih pengembang yang besar cuma yaa aga mahal. Sekarang pengembang – pengembang menengah udah lumayan oke kok, sebut saja Orchid Realty (nama sebenarnya) di Depok yang menerapkan konsep islami di cluster – cluster perumahannya.
- Fasilitas air, telpon dan listrik perlu ditanyakan ke pengembang. Ada yang sudah dipasang, ada yang tinggal daptar ke kantor PLN ato Telkom.
- Sertifikat biasanya belum dipecah. Dalam artian sertifikat tanahnya masih sertifikat satu komplek/cluster. Perlu ditanyain kapan Sertifikat (biasanya HGB = Hak Guna Bangunan) jadi. Kalau perlu minta cover note ke pengembang yang isinya menerangkan bahwa sertifikat jadi setelah berapa bulan semenjak pelunasan atau akad kredit. Dah cover note itu jadi pegangan lu deh.
Nah biasanya info – info tentang perumahan baru ini bisa didapat waktu pameran rumah biasanya di JCC. Kalau gw liat jadwalnya JCC di tahun ini, akan ada Jakarta Property Expo tanggal 8 – 16 Agustus 2009, The 22nd Real Estate Expo 2009 tanggal 24 Oktober – 1 November 2009, Property Expo tanggal 7 – 20 December 2009, trus ada juga The 6th Jakarta Wedding Festival 24 – 26 Juli 2009 (lhooo kok???). Info juga bisa didapet langsung dari kantor pemasarannya, biasanya di sana ada maket rumahnya gitu. Bahkan rumah contohnya juga ada, jadi kebayang deh bentuk rumah kek apa.
Gw sihh pada akhirnya memilih untuk mencari rumah baru karena menurut gw nyari rumah bekas itu sangat lah jodoh – jodohan dan emang butuh jalan – jalan kesana kemari. Gw suka dengan konsep minimalis. Trus dengan jadwal kerja gw yang seperti ini akan ada waktu dimana gw tidak di rumah, kalo keamanan rumah gw bisa dijaga 24 jam penuh paling engga gw bisa agak tenang ninggalin anak istri kelak, sahhh dahhh beraat pembicaraan gw yaa??? hahaha. Bagaimana dengan anda???
Aahhh sekian dahulu tulisan saya, ga nyangka bisa ngemeng ampe sepanjang ini. Nanti dilanjutkan ke bagian kedua. Selamat pagi semua.
*FaBiaN sambil melihat Spanyol diajarin bola sama USA*

June 25, 2009 at 7:16 am |
Yo boss Fab.
Jadi gimana kabar rumah-rumahan -nya?
(koq jd kedegerannya kyk rumah boongan siy.)
June 25, 2009 at 10:10 am |
mantab Fab
berguna banget nih infonya buat gue yg belum banyak ngelirik ke sektor properti (alias rumah2an)
June 25, 2009 at 10:26 am |
@roy, nantikan d tulisan selanjutnya, hehe.
@ojan, yah nyante aja jan kalo blm kpikiran mah. Tapi inget bro, harga tanah naek teruuus. Nabung2 aja dulu
July 1, 2009 at 2:06 pm |
dah kayak broker aja nih…dah tau seluk beluk pe-rumah-an..
ato memang ada niat nyambi jadi broker?
rumahkan investasi yang cukup menjanjikan..
July 5, 2009 at 8:06 am |
Huahaha…juhee juhee, ada juga lu yang lebih faham, pan situ lebih lama berkecimpung di dunia pencarian rumah, hehe…
Nyari rumah bwat sendiri ajah susahnya setengah idup he, apalagi nyariin rumah bwat orang laen :p
July 12, 2009 at 4:29 pm |
fab si tanggal tengah agustusan itu lo off kaga?
marilah kita beramai ramai hunting rumah.
gua nyari juga ini. eh lo apartemen ga minat ya?
July 18, 2009 at 3:53 pm |
Gw off tanggal 11 agustus Yan, bole bole,,,mari kesana..
Apartment kurang minat bro, hehe, secara negara ini masih luas tanahnya, hehe..
July 19, 2009 at 2:16 pm |
Mantab lah bang Haris nih HOP-nya. Jadi kapan sign akad jual beli?
October 6, 2009 at 7:03 am |
Wah keren banget bos. gue suka banget sama artikel en tips-tips yang lo tulis ini. asik banget bacanya, en banyak banget infonya. yang jelas tengkiyu berat nih bos. cuma kalo boleh tanya, HGB (hak guna bangunan) itu sertifikatnya gimana sih bos? kalo gue beli rumah bekas dengan sertifikat HGB, seberapa besar resiko gue? kalo ada resiko apaan tuh bos resikonya? en bisa ga dijadiin SHM alias hak milik?
October 21, 2009 at 4:49 am |
Mana euy Part 2 nya bossss???