We make good things happen gitu loohh…

Akhir – akhir ini gw jarang ke Plant, kerjaan lagi banyak behind the desk dan kebanyakan yang berkenaan dengan safety auditing kayak HAZOP, Project HSE Review, risk assessment, de el el. Dah lama ga ngerjain kerjaan yg troubleshooting gitu, kangen juga si (sebenernya sih lebih kangen off, hahaha).

Baru ajah dirasa – rasa, eehh dapet kerjaan “menembak masalah” juga akhirnya. Sebuah imel dari bos cukup mencerahkan:

Haris,

Tolong dihitung kapasitas cooler kalau diplug beberapa tubingnya.

Lihat laporan di bawah.

Thanks

Prosedur kerja standar a la gw pun gw kerjakan: liat P&ID, cari datasheet, liat GPSA bwat ngitung required heat transfer area, pusing – pusing karena ga paham, baca detiksepakbola.com, baca GPSA lagi, sok – sok ngerti….baru deh….taraaa…ke lapangan, hehe.  Hujan rintik – rintik ga menghalangi gw bwat liat – liat air cooler yang umurnya lebih muda 3 tahun dari gw. Poto sana poto sini, gangguin operator yg lagi kerja, seep dapatlah semua data.

Di perjalanan kembali ke kantor, gw sempatin liat – liat plant, sampai akhirnya gw berhenti di sebuah pipa 36″, pipa inletnya MP Compressor. Sejenak gw termenung di depan pipa itu. Ingatan gw kembali ke sekitar satu tahun yang lalu. Kala itu merupakan kali pertama gw ke Badak Plant setelah 1 bulan bekerja di VICO. Pipa ini adalah first asignment gw kala itu.

Gede yah..

Dua buah pekerjaan itu bernama AFA-10702 dan AFA-10712. Scope pekerjaan ini adalah untuk menyelesaikan masalah MP Compressor yang sering mati karena adanya sensing high level di Scrubber. Tersangka utama dari kasus ini adalah adanya liquid pocket di pipa inlet berukuran 36″. Sumber feeding MP Compressor berasal dari Nilam Gas (pipa yang paling kanan) dan dicampur dengan gas dari LP Compressor (pipa yang tengah), pressure sekitar 290-300 psig, dan temperature ambient.

Perhatikan konstruksi pipa di atas, setelah dua sumber gas bercampur, gas naik ke pipe rack menuju Compressor Scrubber. Di sinilah letak permasalahannya, fluida di dalam pipa tidak semuanya gas, ada sedikit liquid hasil kondensasi. Ketika fluida naik ke pipe rack, ada kemungkinan liquid tidak terikut naik, tetapi mengendap di pipa bawah. Jumlah liquid di bagian bawah pipa semakin lama semakin banyak. Akan ada suatu waktu pipa penuh (atau hampir penuh) dengan liquid, pada saat itulah gas akan mendesak liquid menuju ke atas. Jika hal tsb terjadi liquid dalam jumlah banyak akan masuk ke Scrubber, yang mana Scrubber tidak didesain untuk megakomodasi jumlah liquid yang besar. Alhasil level di Scrubber tinggi dan kompresor akan mati untuk melindungi dirinya.

Secara desain pipa yang membentuk pocket tidak boleh ada, karena akan menyebabkan hal – hal yang disebutkan di atas, apalagi untuk suction Compressor, pipa harus lurus, mulus dan tanpa hambatan. Jadi apakah pipa tersebut harus di-reoute?? Jawabannya yaa tidak, gilee ajee nge-reroute pipa 36″, hehe.

Seharusnya ketika liquid di dalam pipa mencapai level tertentu, maka otomatis akan ter-drain oleh liquid trap yang terpasang di pipa (lihat pipa berwarna hijau, itulah liquid trap). Namun entah kenapa liquid trap tidak bekerja dengan baik. Pada waktu itu disepakati untuk mengganti liquid trap. Kemudian untuk mencegah high level di Scrubber, secara berkala dilakukan manual drain. Untuk itu dipasanglah juga level glass untuk memonitor level di pipa 36″. Hasilnya, lihatlah gambar di bawah, hehe…

Level Glass –> suatu gelas untuk melihat ketinggian, hehe…

Hal inilah yang paling gw suka menjadi engineer design waktu itu. Ada masalah, cari root cause masalahnya, trus diskusi rame – rame bareng Operation, dapet opsi pemecahan masalah, trus design deh, ngukur – ngukur, trus gambar P&ID, isometric drawing, piping lay out, cari material dan konstruksi. Setelah melakukan rutin – rutin tersebut, jadilah instalasi di atas. Perasaan gw seneng banget ngeliat apa yang gw gambar di dua dimensi diterjemahkan dengan baik ke dalam wujud 3 dimensi. Lebih penting lagi masalah terpecahkan.

Memang pekerjaan ini simpel, yaah namanya juga anak baru, dikasi yang simpel – simpel aja dulu. Tapi impact-nya ke diri gw gede. Gw mulai menyenangi desain mendesain. Semangat banget gw melihat benda yang gw gambar terpasang dengan baik. Penting kala itu, karena pada awalnya gw terjun ke industri Oil & Gas ini hanya untuk membuktikan kepada seseorang kalo gw juga bisa hidup di tengah hutan. Setelah mengerjakan kerjaan itu, gw dapet motivasi tambahan yang masih gw pegang ampe sekarang.

Ga kerasa sudah hampir 1.5 tahun gw kerja di VICO. Sudah banyak instalasi yang gw desain dan pasang. Dari masang pipa – pipa jumper line, ampe masang kompresor, mindahin pompa, atau sekedar gonta – ganti setting control valve. Ada beberapa yang menghasilkan gas tambahan. Ada beberapa yang bodoh, salah satunya, salah masang pipa, dimana pipa yang seharusnya dipasang 4″ namun terlanjur terpasang 2″ gara – gara gw telat update gambar. Alhasil pipa sepanjang 100 m harus dilepas kembali, huks, maap ya. Yahh begitu lahh, katanya kan learning by FIRE ehh maksutnya learning by doing, hehehe…

Semua pengalaman tersebut bikin gw bisa berkata:

“Yupp, we’re Process Engineer, we make good things happen.”

3 Comments

Filed under Info yang Smoga Penting, Muara Badak, Process Engineering, Vico

3 responses to “We make good things happen gitu loohh…

  1. bang…keren sekali pengalamannya. Inspiring banget, Tapi sayangnya pengalaman seperti ini tidak membuat semua orang jadi sadar untuk berkreasi lebih baik, termasuk saya hehehehe……

    adam radiman

  2. Pingback: We make good things happen gitu loohh… – Teknik Kimia Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s