Pak Tarnedi si Supir Taksi

Minggu sore di kota Jakarta yang selalu macet, gw bersama Neng Leleiy dan Tante Trulika baru ajah selesai buka bersama di kos – kosan Iwan yang 1.8 juta per bulan itu. Kami bertiga di atas Honda Jazz Leleiy dengan tujuan yang berbeda, Trulika ke Kebon Jeruk, gw ke Serpong dan Leleiy ke rumahnya (Cijantung ya Leiy? :p, lupaa). Trulika diturunkan Leleiy di halte Benhil dan naek taksi. Sedangkan gw di-kick di Plangi, karena gw mo ambil duit dulu.

Karena udah malem, transportasi ke Serpong di hari minggu gini rada susah. KRL dan TransBSD udah ga ada. Gw mutusin naek taksi, gw milih Express dengan alasan lebih murah. Masuk taksi, sang supir menyapa ramah menanyakan tujuan, setelah gw sebutkan tujuan gw, maka berangkatlah kami. Sedan Toyota New Limo membelah jalan Sudirman ketika sang supir memulai pembicaraan.

“Di dalem mal lagi ada acara apa Mas?”, tanyanya sopan.

“Wah saya ga tau Pak, tadi saya cuma mampir ke ATM aja”, jawab gw.

“Itu pangkalan Express diserobot buat parkir mobil”, ia pun menjelaskan motivasinya bertanya tanpa gw tanya.

“Ooo gitu…ga tau saya Pak”, timpal gw dengan basa basi.

Karena kepala gw pusing, gw udah bersiap memejamkan mata, perjalanan dari Sudirman ke Serpong kalo lancar makan waktu 45 menit.  Belum sempurna bukaan mata ini menutup, Pak Supir sudah bertanya lagi.

“Mas, can you teach me speak english?“, tanyanya dengan bahasa inggris yang prononsasinya sangat Indonesia, namun gw masih ngerti. Gw kaget, ini orang serius nanya ato gw lagi berada di kuis Kena Deh, yang mana gw nantinya dikasi 5 pertanyaan yang setiap pertanyaan benar nilainya 50rebu, tapi kalo berhasil jawab semua ditambah 100rebu. Sempet nyari – nyari dimana letak kameranya, hehe. Pak Supir nampak ngeh dengan kekagetan gw, dia pun lagi – lagi memaparkan motivasinya lagi – lagi tanpa ditanya, luar biasa sekali inisiatifnya, hehe.

“Iya Mas, saya itu pengen belajar bahasa inggris, makanya mau minta ajarin Mas”.

“Wah, baca buku aja Pak kalo gitu”, jawab gw sekenanya.

“Saya ga bisa baca Mas. I graduate from elementary school“, lagi – lagi dia menjawab dengan bahasa inggris.

You in hurry?”, katanya lagi.

Merasa ga enak karena dia terus memaksa gw mengobrol dengan bahasa inggris, gw pun nimpalin, “No Pak, I’m not in hurry, just drive carefully“.

“Biasanya saya ngajak penumpang ngajarin saya ngomong inggris Mas, yahh nambah – nambah kata beberapa biji lah. Kayak tadi pagi ada penumpang bule saya tanya, ‘where do you want to go?‘, ‘where do you come from?’, walo si bule ngejawab pake bahasa Indonesia, tapi tetep saya tanya pake bahasa inggris”.

“Wah itu udah ngerti Pak bahasa percakapan sehari – hari”, gw merespon dengan perasaan salut.

“Kata – kata saya cuma dikit Mas, kalo mau nanya bule di Jakarta ngapain, gimana ya Mas?”.

“Ohh, tanya ajah What are you doing in Jakarta?, trus tanya Pak berapa lama di Jakarta, How long you will be in Jakarta?”, jawab gw yang tanpa ditanya juga berinisiatip menambah perbendaharaan kata si Pak Supir.

“Ohhh iyaa Mas, saya pernah denger itu. Kalo di Jakarta tinggal dimana, gimana mas?”

“Tanya ajah, Where do you stay in Jakarta?

“Wah terima kasih banyak lho Mas, udah mau ngajarin saya. I’m happy you want to teach me

“You are welcome Pak, I’m happy to speak english with you”.

Pembicaraan kami pun berlanjut, masih mengenai ketertarikan dia akan belajar bahasa inggris. Terus terang gw salut dengan bapak tua ini, sudah tua tapi masih mau untuk belajar. Perbendaharaan kata – katanya juga gw pikir sudah cukup untuk pembicaraan sehari – hari dalam kapasitasnya sebagai supir taksi. Dia juga bercerita bagaimana dia pernah diajari bahasa inggris oleh seorang guru, namun dia ga bisa ngikutin karena metode blajar seperti itu susah buat dia. Akhirnya dia mengambil cara otodidak, yaitu dengan mengajak ngobrol penumpang – penumpangnya dengan bahasa inggris. Kalo dapat kata – kata baru dia akan menulisnya di tangan, dan dihapalkannya.

Selama ngobrol dia terkadang mencoba menggunakan bahasa inggris dan menanyakan ke gw dimana kesalahannya. Ketika gw menjawab pertanyaannya, dia pun menanyakan arti masing – masing kata yang gw sebutkan. Terkesan dia sebenarnya tahu kata – kata tersebut, namun tidak tahu kapan harus menggunakannya.

My name is Tarnedi, I am fivety two years, I am from Indramayu”, begitulah dia menjelaskan tentang dirinya. Dia tinggal di Bekasi, “I have two children, all boy”, dengan tingkat kepedean yang besar walo terbata – bata.

My wife is in Indramayu with my…apa itu Mas anak paling kecil bahasa inggrisnya?”

“Ohh…with my youngest son Pak”. Mungkin prinsipnya adalah yang penting ngomong dulu, bisa dikoreksi nanti.

“Wahh nambah lagi kan kata – kata saya”. Cerdas betul caranya menggali informasi dari gw, hehe.

Perjalanan yang jauh ini tak terasa lama, karena kami terus mengobrol. Gw sangat antusias bercas cis cus dengan Pak Tarnedi. Pertanyaannya kadang lucu – lucu, seperti bagaimana menanyakan ke orang bule ‘apakah di negaranya macet juga apa engga?’, atau bagaimana caranya ngomong ‘kalau saya ke airport saya pasti ke BSD’, hanya untuk ngasi tau ke gw kalo dia lagi di BSD bisa gw telpon kalo gw butuh taksi. “You can call me one hour before”, katanya sambil memberikan nomor hapenya yang disebutkan lagi – lagi dengan bahasa inggris. Yahh  intinya mah banyak lah bahan obrolan kami.

Terlihat bagaimana antusiasnya dia mempelajari bahasa asing. Walopun umurnya sudah 52, tidak menghalangi dia untuk menambah ilmu. Gw salut sama semangatnya. Gw yang kadang ngerasa inferior dalam ngomong inggris ini jadi merasa lebih pede, karena beliau yang masih kagok aja pedenya setinggi langit, knapa gw musti takut, ya thoh?.  Malam ini gw diberi pelajaran yang amat sangat berharga tentang bagaimana semangat belajar yang seharusnya tetap kita jaga, sampai roh ini berpisah dengan raga yang fana ini.

Taksi pun merapat di pool Trans BSD, dimana gw memarkir motor pada waktu pergi tadi. Dia berterima kasih atas pelajaran yang ia terima, gw pun berterima kasih karena dia menyetir dengan baik dan benar.

Thank you very much, hopefully we will meet again, and check your belonging“, dia pun mengucapkan salam perpisahan setelah gw membayar ongkos taksi.

You are very welcome Pak🙂

Pak Tarnedi, I am taxi driver and you can try my english

3 Comments

Filed under Di Kala Nganggur, Info yang Smoga Penting

3 responses to “Pak Tarnedi si Supir Taksi

  1. Iwan

    Nice post, great story.
    Sangat menginspirasi anak2 badung pemalas kek saya.😀

    tulisanhimawan[dot]blog[dot]com

  2. genawa

    Salut sama abang2 taksinya

  3. addiscenna

    i see the video on you tube, it was upload 2 week ago – english sy bener gak ya =P –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s