We judge book by its cover, obviously..

Saya selalu bertanya-tanya apakah efektif penggunaan metal detector di pintu masuk mal-mal di Jakarta? Kalo lewat metal detector perasaan seringnya bunyi, tapi ga diapa-apain juga sama satpamnya. Saya punya teori, sepertinya si satpam juga ngeliat rupa dan penampilan orang sebelum memutuskan apakah hanya sekedar memeriksa badan si pengunjung atau apakah sampai dilakukan prosedur colonoscopy. Jadi karena saya berpakaian kemeja lengan panjang, celana bahan, dan sepatu pantopel, maka saya adalah pekerja yg sangat amat tidak mungkin sekali membawa bahan peledak, itu mungkin yg ada di pikiran satpam mal.

Menurut saya di Indonesia ini penampilan masih jadi bahan pertimbangan. Kalau kita tampak seperti orang yang berhak/mampu melakukan/mendapatkan sesuatu, maka kita bisa melakukan/mendapatkan sesuatu itu. Saya malam ini lagi senang berhipotesis, hehe. Contoh, pernahkah kawan-kawan sekalian duduk di Starbucks tanpa memesan minuman yg over priced itu dan kemudian dengan santenya ber-wifi ria? Saya sih beberapa kali melakukan teknik ini dan berhasil tanpa diusir, hehe.

Sebaliknya ketika kita berpenampilan “tidak sesuai” dengan yang diharapkan oleh masyarakat, maka jangan harap bisa mendapatkan sesuatu yg mungkin sebenarnya bisa kita dapatkan. Terdengar rumit yaa hipotesis saya. Saya kasih contih deh. Pengalaman pribadi saya waktu awal-awal punya rumah di Cluster Sevilla BSD. Komplek ini komplek baru yg isinya kebanyakan keluarga muda yg modern. Saya waktu itu sering keluar masuk komplek pake motor Yamaha Jupiter 97 yg butut. Setiap masuk komplek satpam di gate selalu bertanya, “Mau kemana Pak?”, saya selalu jawab “Ke rumah saya” dengan nada ’emangnya gw gak mampu beli rumah di BSD. Yaa memang benar sih saya gak mampu klo ga dikasi pinjeman duit dr perusahaan, hahaha. But still, itu penghuni yang pake mobil gak ditanyain ampe segitunya, selalu di sapa ramah.

Kejadian yg sama saya perhatikan berlaku untuk para pria yg berpenampilan jenggot tebal, celana ngatung, dan bawa tas ransel hitam. Jenis pria-pria seperti ini pasti kalo masuk Mal atau hotel jadi pusat perhatian. Padahal salah mereka apa coba? Miara jenggot ikut sunnah nabi, celana ngatung karena mereka manjaga supaya pakaian tidak kotor.

Yaahh saya sih cuma berharap saya bisa gak menilak orang hanya dari penampilan, walo susah sih emang, hehehe..

Leave a comment

Filed under Di Kala Nganggur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s